Jumat, 12 November 2010

PENELITIAN "Perpustakaan Digital Sudah Bisa Diakses"

Kamis, 11 November 2010 | 16:45 WIB
 
KemenristekDi http://pustaka.ristek.go.id saat ini akses yang baru terbuka bagi peneliti di Lembaga Pemerintah non-Kementerian (LPNK) seperti BPPT, LIPI, LAPAN, BATAN, Bapeten, BSN dan peneliti di Puspiptek.

JAKARTA, KOMPAS.com — Peneliti Indonesia kini bisa mengakses sekitar 2.000 jurnal ilmiah internasional setelah portal perpustakaan digital diluncurkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi. Di perpustakaan digital ini, sekitar 2.000 jurnal ilmiah internasional bisa diakses para peneliti kita.
Akses berlangganan ke jurnal internasional bagi para peneliti kita terlalu mahal. Karena itu, kami memfasilitasinya. Mereka bisa mendapat password untuk akses ini.
-- Suharna Surapranata
Demikian dikatakan Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata di Jakarta, Kamis (11/11/2010), pada peluncuran perpustakaan digital http://pustaka.ristek.go.id. Untuk sementara, kata dia, yang baru terbuka adalah akses bagi peneliti di lembaga pemerintah non-kementerian (LPNK), seperti BPPT, LIPI, LAPAN, BATAN, Bapeten, BSN, dan peneliti di Puspiptek.
"Ke depan akan dibuka juga kerja sama dengan berbagai badan litbang kementerian, pemda, dan perguruan tinggi," ujar Suharna.
Menurut dia, selama ini para peneliti Indonesia sulit mendapatkan akses ke berbagai jurnal internasional sehingga tak mengetahui temuan terakhir dunia. Para peneliti juga tak bisa memetakan riset yang dibutuhkan dan sering terjadi penelitian yang tumpang tindih.
Suharna juga menyesalkan rendahnya publikasi peneliti Indonesia yang hanya antara 300 dan 400 artikel per tahun. Ia membandingkan jumlah tersebut dengan publikasi penelitian di China yang mencapai 250.000 artikel per tahun atau Jepang sebanyak 100.000 dan Korea Selatan 50.000 artikel per tahun.
"Dengan terbukanya akses ke jurnal ilmiah itu, para peneliti Indonesia diharapkan bisa mengetahui kondisi terakhir penelitian di dunia dan makin bersemangat melanjutkan berbagai penelitian tersebut," ujarnya.
Sementara itu, Staf Khusus Menteri Bidang Kebijakan Iptek KRT Dr Ade Komara Mulyana mengatakan, akses ke jurnal ilmiah internasional ini melalui science direct yang merupakan penyedia kumpulan jurnal ilmiah terbesar di dunia.
"Akses berlangganan ke jurnal internasional bagi para peneliti kita terlalu mahal. Karena itu, kami memfasilitasinya. Mereka bisa mendapat password untuk akses ini," katanya.
Ke depan, kata dia, selain bekerja sama dengan science direct, pihaknya juga berharap bisa berlangganan IEEE, penyedia jurnal internasional lainnya dan Proquest yang sebenarnya sudah dijadikan langganan oleh Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional untuk berbagai universitas.
KRT, ujarnya, juga memfasilitasi para penelitinya di LPNK yang ingin artikelnya dipublikasikan di jurnal internasional setelah diseleksi oleh pihak penerbit. Biaya publikasi mencapai 500 dollar AS per artikel.
Adapun Indonesia saat ini memiliki 6.000 jurnal ilmiah nasional terakreditasi dengan 25.000 artikel per tahunnya.

RSBI Bahasa Asing di RSBI "Memble"

Jumat, 12 November 2010 | 10:11 WIB BANGKOK, KOMPAS.com -
 
shutterstockIlustrasi: Hasil penelitian itu menyebutkan, penggunaan bahasa asing tidak efektif karena jumlah guru yang berkemampuan mengajar dalam bahasa Inggris kurang dari 25 persen. Mayoritas guru hanya sekadar bisa berbicara dalam bahasa Inggris.

Bahasa asing sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah berstatus rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) di Indonesia berjalan tidak efektif. Ini disebabkan tidak ada standar pengajaran yang jelas sehingga metode pengajaran bahasa asing setiap guru berbeda.
Setiap guru di satu sekolah yang sama bisa saja metode pengajaran dengan bahasa Inggrisnya berbeda-beda, karena tidak ada panduan dan standar pengajaran yang jelas.
-- Danny Whitehead
Hal itu dikemukakan Head of English Development British Council Danny Whitehead yang memaparkan hasil penelitian Stephen Bax dari University of Bedfordshire, Inggris, di konferensi internasional ”Language, Education, and Millenium Development Goals (MDGs)”, Kamis (11/11/2010) di Bangkok, Thailand.
”Setiap guru di satu sekolah yang sama bisa saja metode pengajaran dengan bahasa Inggrisnya berbeda-beda. Ini disebabkan tidak ada panduan dan standar pengajaran yang jelas,” ungkap Whitehead.
Hasil penelitian itu juga menyebutkan, penggunaan bahasa asing tidak efektif karena jumlah guru yang memiliki kemampuan mengajar dalam bahasa Inggris kurang dari 25 persen. Mayoritas guru hanya sekadar bisa berbicara dalam bahasa Inggris.
”Mahir bicara dalam bahasa Inggris dan mampu mengajar dalam bahasa Inggris jelas dua hal yang berbeda. Guru harus dilatih secara khusus untuk bisa mengajar dengan bahasa Inggris,” kata Whitehead. (LUK)

Bahasa Asing di RSBI Tidak Efektif

Jumat, 12 November 2010 | 04:06 WIBBangkok, Kompas 
Bahasa asing sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah yang berstatus rintisan sekolah bertaraf internasional di Indonesia berjalan tidak efektif. Ini disebabkan tidak ada standar pengajaran yang jelas sehingga metode pengajaran bahasa asing setiap guru berbeda.
Hal itu dikemukakan Head of English Development British Council Danny Whitehead yang memaparkan hasil penelitian Stephen Bax dari University of Bedfordshire, Inggris, di konferensi internasional ”Language, Education, and Millenium Development Goals (MDGs)”, Kamis (11/11) di Bangkok, Thailand.
”Setiap guru di satu sekolah yang sama bisa saja metode pengajaran dengan bahasa Inggrisnya berbeda-beda. Ini disebabkan tidak ada panduan dan standar pengajaran yang jelas,” ungkap Whitehead.
Hasil penelitian itu juga menyebutkan, penggunaan bahasa asing tidak efektif karena jumlah guru yang memiliki kemampuan mengajar dalam bahasa Inggris kurang dari 25 persen. Mayoritas guru hanya sekadar bisa berbicara dalam bahasa Inggris.
”Mahir bicara dalam bahasa Inggris dan mampu mengajar dalam bahasa Inggris jelas dua hal yang berbeda. Guru harus dilatih secara khusus untuk bisa mengajar dengan bahasa Inggris,” kata Whitehead.
Tak harus RSBI
Untuk meningkatkan mutu pendidikan, kata Whitehead, tidak perlu melalui pendirian rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI). Justru akan lebih efektif jika pemerintah memusatkan perhatian pada metode dan proses pengajaran, baik di RSBI maupun non-RSBI. Bahkan, RSBI sebenarnya bisa mengembangkan kurikulumnya sendiri dengan tetap berdasarkan kurikulum nasional dan tidak perlu mengambil mentah-mentah dari negara lain. ”Jangan justru mendahulukan keuntungan ekonomi yang dapat diperoleh,” kata Whitehead.
Hal senada diutarakan konsultan pendidikan di British Council Indonesia, Hywel Coleman. Ia mengaku khawatir RSBI justru menciptakan diskriminasi pendidikan yang semakin lebar. Apalagi kurikulum RSBI sebagian diambil dari sekolah luar negeri.
”Biaya pendidikan di RSBI sebenarnya bisa murah jika kurikulum yang digunakan kurikulum buatan sendiri,” kata Coleman.
Ia khawatir akan banyak anak yang tidak bisa menikmati pendidikan berkualitas baik, seperti di Pakistan dan Thailand.
Karena sudah telanjur harus ada sesuai undang-undang, Whitehead dan Coleman menyarankan agar pemerintah mengawasi dan mengevaluasi RSBI, terutama efektivitas dalam pengajaran menggunakan bahasa Inggris.
”Sampai saat ini belum ada evaluasi menyeluruh dari pemerintah tentang RSBI,” kata Whitehead. (LUK)

Bagaimana komentar anda?

Kamis, 11 November 2010

Bahasa Asing Jangan Jadi Bahasa Pengantar

Kamis, 11 November 2010 | 04:04 WIB
Bangkok, Kompas - Untuk mempermudah pemahaman siswa terhadap materi pelajaran di sekolah, hindari penggunaan bahasa asing, seperti bahasa Inggris. Dengan bahasa asing, siswa dikhawatirkan justru akan bingung dan tidak mengerti persoalan atau malah salah pengertian.
Kekhawatiran itu diungkapkan berkali-kali oleh para peserta dan pembicara dalam sesi diskusi konferensi internasional mengenai ”Language, Education, and the Millenium Development Goals (MDGs)”, Rabu (10/11) di Bangkok, Thailand.
Dari berbagai pengalaman yang diceritakan para peserta dan pembicara, mayoritas bahkan menilai, penggunaan bahasa asing yang terlalu dini di taman bermain dan taman kanak-kanak justru akan mengacaukan kemampuan berbahasa anak.
”Di satu sisi, anak tidak fasih bahasa Inggris karena tidak dipakai sehari-hari. Di sisi lain, penggunaan bahasa ibu juga lama-lama menjadi tidak lancar karena di sekolah mulai ditinggalkan,” kata penasihat pendidikan di Save the Children Inggris, Helen Pinnock, seperti dilaporkan wartawan Kompas, Luki Aulia.
Direktur SIL International-LEAD Asia Catherine Young juga khawatir jika siswa tidak mengerti bahasa pengantar yang digunakan di sekolahnya, lambat laun minat dan semangat anak bisa menurun dan berakhir dengan drop out.
Keberhasilan MDGs
Sehari sebelumnya, saat membuka konferensi, Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva mengatakan, ”Ilmu pengetahuan apa pun akan lebih cepat dimengerti siswa jika disampaikan dalam bahasa mereka sendiri.” Apalagi di masyarakat yang tinggal di pedesaan, daerah perbatasan, dan kelompok masyarakat miskin.
Masyarakat pedesaan, daerah perbatasan, dan miskin itulah yang dinilai Abhisit masih tertinggal karena tidak bisa memperoleh informasi atau pengetahuan hanya karena mereka tidak menguasai bahasa nasional ataupun bahasa internasional.
Bahkan, menurut pakar bahasa Inggris dari University of Oxford, Inggris, Suzanne Romaine, masyarakat lokal, terutama kelompok minoritas, akan tergilas roda pembangunan jika mereka masih saja terhambat urusan bahasa. Jika pemerintah mau peduli untuk mempertahankan bahasa ibu, taraf hidup masyarakat dipastikan akan membaik.
”Berikan kebebasan masyarakat untuk menggunakan bahasa mereka sebagai sarana untuk mengembangkan diri sendiri,” kata Romaine.
Jika masyarakat lokal dipaksa untuk menggunakan bahasa selain bahasa ibu, Helen Pinnock khawatir masyarakat takut mencoba hal baru dan akan kian tertinggal.
Bukan ukuran
Helen menilai, tidak ada salahnya mengajarkan bahasa asing di jenjang pendidikan dasar asalkan menjadi salah satu mata pelajaran dan bukan bahasa pengantar. Helen juga mengingatkan, bahasa asing sebagai bahasa pengantar tidak bisa dijadikan ukuran mutu suatu sekolah.
”Yang penting benahi metode pengajaran, cara belajar siswa, dan cara guru mengajar. Kuncinya, buat anak nyaman belajar di sekolah, apakah itu dengan bahasa lokal, nasional, atau asing,” kata Helen.
Dalam lingkup yang lebih luas, Helen mengingatkan pentingnya menentukan arah pendidikan. Sumber daya manusia seperti apa yang diharapkan akan dihasilkan institusi pendidikan untuk menghadapi tantangan masa depan.
”Sangat bergantung pada rencana pembangunan jangka panjang pemerintah. Setelah tahu itu, barulah kurikulum seperti apa yang harus dibuat,” ujarnya.
Pengakuan
Suzanne Romaine mengaku khawatir dengan banyaknya negara yang menetapkan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Apalagi jika latar belakang pemikirannya hanya agar bisa diakui memiliki standar internasional.
Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar justru akan berisiko bagi negara-negara yang bahasa utamanya bukan bahasa Inggris. Kondisi belajar-mengajar akan semakin tidak jelas karena masih banyak guru yang tidak mahir berbicara dalam bahasa Inggris, apalagi mengajar dalam bahasa Inggris.
Daripada menggunakan bahasa Inggris, Romaine mengusulkan agar lebih baik menggunakan bahasa lokal, terutama bagi siswa yang tinggal di daerah pedesaan atau daerah terpencil.
”Ajarkan bahasa ibu dulu. Baru seiring dengan itu, sedikit demi sedikit, ajarkan bahasa lain,” kata Romaine.

Doa Tambah Ilmu/ Keselamatan Keluarga ,Terhindar Ajakan Orang


    Doa Agar Ditambah Ilmu:



Rabbi zidni ‘ilman.
Artinya: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”

Doa Keselamatan dan Keluarga :

Rabbi najjini wa ahli mimma ya’maluna.
Artinya: “Wahai Tuhanku, selamatkanlah aku dan keluargaku dari perbuatan mereka.”

Doa Terhindar dari Ajakan Orang Berbuat Jahat:


Rabbis sijni ahabbu ilayya mimma yad’unani ilaihi wa illa tasrif ‘anni  kaidahunna asabu ilaihinna wa akum minal jahilina.
Artinya: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan aku dari tipu-daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.”

Sukarelawan Guru di Tengah Bencana

SM 11 Nopember 2010/Pendidikan : DI tengah kondisi darurat bencana di Indonesia, seharusnya kegiatan belajar mengajar tetap dijalankan. Sebagaimana Jepang saat luluh lantak terkena bom atom milik Amerika. Di tengah puing-puing kehancuran itu, Jepang mencoba bangkit melalui pendidikan dengan mencari guru-guru yang masih hidup.

Apa yang dilakukan Jepang sebetulnya mengajarkan betapa pendidikan idealnya tetap dilakukan, meski kondisi darurat sekalipun. Hal inilah yang seharusnya diilhami Indonesia. Infrastruktur boleh rusak dan korban berjatuhan, tetapi pendidikan tetap harus berjalan.

Untuk tetap menyelenggarakan pendidikan di tengah bencana, keberadaan sukarelawan guru mutlak adanya.

Sejauh ini, sukarelawan guru di lokasi-lokasi bencana di Indonesia masih minim. Mayoritas mereka yang ada hanya dari kalangan tim SAR, tenaga kesehatan, dan bantuan logistik. Sementara untuk sukarelawan guru sangat minim, bahkan nyaris tidak ada.

Padahal keberadaan sukarelawan guru sangat penting untuk menghapus trauma anak-anak dan menyemangati mereka agar tetap bersemangat belajar.  Karena itu, dinas-dinas terkait seperti dinas pendidikan sangat ditunggu partisipasinya.

Dinas pendidikan semestinya juga mengirimkan sukarelawan guru di lokasi-lokasi bencana. Mereka inilah yang nanti bertugas untuk menyelenggarakan pendidikan di tengah bencana. Karena pendidikan darurat, tentu berbeda dari saat kondisi normal.
Namun yang terpenting dari kegiatan ini adalah untuk memulihkan mental psikis anak-anak agar tetap mau belajar. Tentu saja dalam pelaksanaannya harus berkoordinasi dengan pihak terkait, BNBP misalnya.(75)

Korban Merapi yang Meninggal di RS Sardjito 107 Orang

Kamis, 11 November 2010, 08:11 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA--Korban meninggal dunia akibat letusan awan panas Gunung Merapi yang dibawa ke Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Jumat (5/11) dini hari hingga Kamis, pukul 07.00 WIB, mencapai 107 orang. Tim Forensik Rumah Sakit (RS) Sardjito Yogyakarta dibantu tim "Disaster Victim Identification" (DVI) Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta telah berhasil mengidentifikasi sebanyak 54 jenazah dari 107 jenazah yang dibawa ke rumah sakit rujukan di provinsi ini.
RS Sardjito Yogyakarta hingga kini masih merawat 25 korban luka bakar akibat letusan Gunung Merapi pada Jumat (5/10) dini hari yang tersebar di beberapa bangsal rawat inap di rumah sakit. "Pasien yang dirawat di RS sebagian besar mengalami luka bakar lebih dari 40 persen sehingga membutuhkan perawatan yang lebih intensif," kata Kepala Bagian Hukum dan Humas Rumah Sakit (RS) Sardjito Yogyakarta Trisno Heru Nugroho.
Menurut dia, korban luka bakar tersebut harus menjalani perawatan yang intensif karena sangat rentan dengan infeksi. "Tim medis harus cermat merawat dan mengobat korban luka bakar letusan awan panas Gunung Merapi pada Jumat (5/11) dini hari agar jangan terinfeksi," katanya.
Selain merawat korban luka bakar, RS Sardjito hingga kini masih merawat 78 korban nonluka bakar sehingga total korban luka yang kini menjalani perawatan di rumah sakit ini mencapai 103 orang. Sementara di pos antemortem DVI Polda DIY telah menerima sebanyak 230 laporan orang hilang sejak Jumat (5/11). Jumlah korban meninggal dunia akibat letusan Gunung Merapi pada Jumat dini hari kemungkinan masih akan terus bertambah karena tim gabungan yang terdiri atas anggota pencarian dan penyelamatan (SAR), Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan relawan masih terus melakukan proses evakuasi, terutama di dusun sekitar Kali Gendol.
Tim SAR DIY, TNI, dan relawan hingga kini masih menemukan jenazah di dusun-dusun sekitar Kali Gendol yang letaknya tidak jauh dari puncak gunung yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istime Yogyakarta.

Senin, 08 November 2010

Dahsyatnya Abu Merapi

Merapi terus meletus. Seiring tanah bergetar, sang gunung memuntahkan material vulkanik ke udara. Asap membubung tinggi, lalu jatuh ke mana angin membawa.
Di Yogyakarta Jumat (5/11) pagi ini, warga menyambut pagi yang gelap dan kelabu. Kota itu, juga berbagai wilayah di sekitar Merapi, diselimuti abu. Penduduk harus beraktivitas dengan masker, agar material silika tak terhirup ke paru-paru yang bisa terganggu karenanya.
Semua jadwal di bandara Adi Sutjipto dibatalkan demi keselamatan penerbangan. Di Bandung, sejumlah penduduk melaporkan hujan abu yang dikaitkan dengan Merapi.
Relawan terus berdatangan membantu pengungsi Merapi. Di berbagai sudut negeri, orang-orang mengulurkan tangan. Di berbagai jejaring, kepedulian terbentuk...
Gunung Merapi memuntahkan material vulkanik, terlihat dari Klaten, Kamis (4/11). (AP Photo/Irwin Fedriansyah)
Penduduk menyelamatkan diri dengan motor setelah Gunung Merapi meletus lagi, Jumat (5/11). Pemerintah meluaskan zona bahaya menjadi 20 kilometer dari pusat kawah Merapi. (AP Photo/Achmad Ibrahim)
Tim penyelamat mencari korban Merapi di Argomulyo, Yogyakarta, Jumat (5/11). (AP Photo/Trisnadi)
Tim relawan dan tentara di Argomulyo lari menyelamatkan diri setelah Merapi kembali meletus, Jumat (5/11). (AP Photo/Trisnadi)
Sebuah pesawat, berselimut abu vulkanik, diparkir di bandara internasional Adi Sutjipto, Yogyakarta, Jumat (5/11). Bandara yang landasannya tertutup abu putih harus ditutup. (AP Photo/Irwin Fedriansyah)
Masyarakat melakukan aktivitas menggunakan masker saat melintas di Jalan Pangeran Diponegoro, Yogyakarta, Jumat (5/11). Erupsi Gunung Merapi yang kembali terjadi pada Kamis (5/11) mengeluarkan debu vulkanik yang menyelimuti Kota Yogyakarta, sehingga masyarakat diimbau menggunakan masker saat melakukan aktivitas di luar ruangan untuk mengantisipasi gangguan kesehatan akibat debu vulkanik. (Foto ANTARAWahyu Putro A)
Seorang anak berjalan di antara pohon yang tumbang di jalan lingkar Muntilan, Jawa Tengah, Jumat (5/11). Banyak pohon tumbang di beberapa wilayah Muntilan akibat hujan abu vulkanik dari Gunung Merapi. (Foto ANTARA/Wihdan Hidayat)
Dodi IR

Sabtu, 06 November 2010

Woro - woro untuk siswa kelas SMP Negeri 3 Kebumen

Hari ini Sabtu, 6 Nopember 2010 terpaksa semua siswa bvelajar di rumah, karena masih banyaknya bertaburan debu vulkanik yang berasal dari letusan gunung Merapi, demikian harap maklum

TERDAHSYAT DALAM SEABAD

Berita Utama (Suara Merdeka) 06 Nopember 2010

  • 73 Orang Meninggal, Puluhan Luka Bakar : Radius Bahaya Jadi 20 Kilometer
image
Puluhan ribu pengungsi Gunung Merapi memenuhi Stadion Maguwoharjo, Sleman, Jumat (5/11). Mereka dievakuasi dari Kecamatan Pakem, Turi, dan Cangkringan (kiri). Asap tebal membubung tinggi dari puncak Merapi, terlihat dari Mako Relawan Tuk Pitu, Pakem Sleman, Jumat (5/11) pukul 12.33. (30)
SLEMAN - Amukan Merapi memuncak. Letusan hebat yang terjadi Jumat (5/11) dini hari mengakibatkan 73 orang meninggal dan puluhan lainnya mengalami luka bakar. Letusan itu merupakan yang terdahsyat dalam seabad terakhir.

Awan panas yang menerjang selepas tengah malam itu meluluhlantakkan sejumlah dusun di Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Sebanyak 69 warga tewas dan 71 lainnya luka bakar. Mereka kini dirawat di RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta.

Di Klaten, awan panas menewaskan empat warga dan melukai 29 orang lainnya. Mereka dirawat di RSUP Dr Soeradji Tirtonegoro. Jumlah korban kemungkinan bertambah karena ada sejumlah dusun yang belum bisa dijangkau tim evakuasi.

Letusan itu juga membuat jumlah pengungsi membengkak hingga lebih dari 150.000 orang. Bahkan belasan desa di Kecamatan Srumbung dan Dukun, Kabupaten Magelang, menjadi desa mati karena sudah dikosongkan sama sekali.

Kepanikan luar biasa juga melanda ribuan pengungsi di Klaten dan Boyolali. Mereka pindah dari barak-barak pengungsian ke tempat aman. Radius bahaya kini meluas dari 15 km menjadi 20 km dari puncak Merapi.
Sebagian besar dari 69 korban tewas di Sleman ditemukan di Dusun Bronggang dan Jonggrang, Desa Argomulyo.

Jenazah rata-rata sulit dikenali karena seluruh tubuhnya terbakar, bahkan tak sedikit yang organ tubuhnya hilang. Berdasarkan identifikasi di RSUP Dr Sardjito, mereka terdiri atas atas 32 laki-laki, 27 perempuan, dan 10 anak-anak. Dari jumlah itu, 37 jenazah telah dikenali.

Belasan mayat ditemukan di beberapa rumah penduduk yang hancur ataupun rusak terbakar. Ada pula yang tergeletak di jalan. Beberapa mayat ditemukan masih panas dan menguap. Hewan-hewan ternak juga mati.
Menurut keterangan beberapa warga yang tinggal di dusun lain, kebanyakan korban adalah orang-orang tua yang menolak mengungsi. Sebelum terjadi letusan, mereka diajak turun ke tempat aman, namun enggan meninggalkan rumahnya.

Menurut salah satu warga yang selamat, Haryanto (42), warga Karanglo, Argomulyo, Cangkringan, sebagian besar korban adalah warga yang tinggal di sepanjang Kali Gendhol. Begitu terjadi letusan, awan panas dan lahar panas turun sangat cepat melalui sungai tersebut.

Malam sebelum musibah itu, di rumah seorang warga bernama Yu Kirti digelar yasinan yang dihadiri puluhan orang. ’’Usai yasinan, saya bersama adik saya langsung pulang,’’ ujar Haryanto.

Sebagian warga lainnya juga langsung pulang, tetapi ada pula yang nongkrong di rumah Kirti sambil menunggui hewan korban yang disimpan di halaman. Tiba-tiba sekitar pukul 00.34 muncul semburan awan panas yang dibarengi suara gemuruh dari arah puncak Merapi. Awan panas itu menyapu seisi dusun, termasuk orang-orang yang berada di rumah Kirti. ’’Di halaman depan saja ditemukan sembilan orang tewas, sedangkan di dalam rumah Yu Kirti ditemukan lima orang,’’ kata Haryanto.

Kondisi jenazah yang dievakuasi sangat memilukan. Bahkan ada jenazah yang ditemukan saling berpelukan dengan anaknya. ’’Ada dua atau tiga jenazah yang ditemukan berpelukan dengan anaknya,’’ kata salah seorang relawan. 

Menurut keterangan lainnya, wedhus gembel besar keluar saat banyak warga Argomulyo tertidur lelap. Saksi mata yang juga Kasi Pelayanan Umum Kecamatan Cangkringan, Hermanto mengungkapkan, ketika terjadi awan panas dan banjir lahar, warga sedang tidur.

Mereka tiba-tiba dikejutkan dengan suara menggemuruh dari Kali Gendol. Sungai tak mampu lagi menahan material hingga meluap dan sampai ke rumah-rumah penduduk hingga menewaskan banyak orang.
Berdasarkan pantauan Suara Merdeka dan laporan tim SAR serta relawan, jumlah korban masih bisa bertambah karena banyak rumah yang hancur dan hangus terbakar.Relawan dan tim SAR belum bisa masuk ke sejumlah desa karena udara masih sangat panas. ’’Selain itu, beberapa lokasi masih tertimbun lahar panas, khususnya di Dusun Bronggang,’’ kata dr Rizal, anggota tim forensik RSUP Dr Sardjito.

Gemuruh Merapi dini hari itu terdengar tak hanya dari daerah sekitarnya, tapi juga hingga Kota Yogyakarta. Lewat tengah malam terdengar suara dentuman disusul hujan abu. Hingga pagi hujan abu tak kunjung berhenti. Seharian Yogyakarta dan sekitarnya gelap. Jalanan dipenuhi abu vukanik, udara sangat kotor dan jarak pandang hanya beberapa meter. Pegendara mobil dan motor harus ekstra hati-hati. Toko dan warung makan tutup, anak sekolah libur. Hujan abu juga mengakibatkan Bandara Adisutjipto ditutup. General Manaher PT Angkasa Pura I Cabang Bandara Adisutjipto Agus Andriyanyo mengungkapkan,  semua penerbangan dari dan ke Yogyakarta ditunda.
Energi Besar Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, R Sukhyar di kantor BPPTK Yogyakarta, mengatakan, letusan kali ini merupakan yang terbesar dalam 100 tahun sejarah Gunung Merapi. Selama dua hari, Merapi tak henti mengeluarkan awan panas.

”Sejak Rabu (3/11) sekitar pukul 11.11 letusan terus terjadi tanpa henti hingga hari ini (kemarin-Red). Kondisi tersebut menandakan energi yang besar di dalam dan desakan magma yang menekan kuat untuk keluar,” jelas Sukhyar yang didampingi Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Kementerian ESDM, Surono dan Kepala BPPTK Yogyakarta, Subandriyo.

Menurutnya, letusan Merapi kali ini juga merupakan yang terbesar setelah letusan Gunung Galunggung di Jawa Barat pada 1982. Atas berbagai pertimbangan itu pula pihaknya memperluas zona bahaya dari semula 15 kilometer menjadi 20 kilometer dari puncak.(H50,sgt,D19,ang, H66,pr,H33,H34,G10,dwi-59)