Senin, 22 November 2010

Rahasia di Balik Matematika Shalat

   
Rahasia di Balik Matematika Shalat

Berapa lamakah kita shalat dalam sehari semalam? Jika setiap rakaat kita perkirakan dua menit, maka dalam sehari-semalam jumlahnya ada 34 menit. Artinya, dalam sehari hanya kita isi sebanyak 2,4 persen dari 1440 menit. Dalam satu minggu, berarti ada 238 menit atau 3,96 jam. Dalam satu bulan, lama shalat kita sebanyak 952 menit atau 15,86 jam. Dan setahun, ada 11.424 menit atau 190,4 jam, yang berarti setara dengan 7,93 hari.

Jika rata-rata usia hidup manusia selama 60 tahun, dan dikurangi dengan 10 tahun masa awal akil baligh (dewasa), maka hanya 50 tahun seseorang melaksanakan shalat dalam hidupnya. Itu berarti, sepanjang hidupnya ia melaksanakan shalat fardlu selama 571.200 menit atau sekitar 9.520 jam, atau 396,7 hari (1,1 tahun).

Bisa dibayangkan, selama hidup, kita hanya butuh waktu untuk shalat fardhu selama 1,1 tahun, atau dalam satu tahun hanya 7,93 hari, atau dalam satu hari hanya 34 menit. Dari sini terlihat betapa jauhnya perbandingan ketaatan kita kepada Allah SWT dengan nikmat yang diberikan-Nya kepada kita dengan nikmat usia.

Maka, sangat disayangkan apabila ada orang yang tidak melaksanakan shalat karena alasan tidak ada waktu atau sibuk. Padahal, jika kita jujur terhadap diri sendiri, kita mampu berlama-lama bertelepon, nongkrong di depan komputer, jalan-jalan, nonton TV, dan lain sebagainya.

Ingatlah, Abu Zubair menceritakan bahwa dia mendengar Jabir bin Abdullah berkata, ''Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran itu terdapat perbuatan meninggalkan shalat'." (HR Muslim).

Oleh karena itu, jangan pernah merasa puas dan berbangga diri dengan ibadah yang telah kita laksanakan. Sebab, bisa jadi ibadah kita, terutama shalat, tidak akan berarti apa-apa bila hal itu kita kerjakan dengan tidak ikhlas. Apalagi berharap surga. Allah menyindir orang yang demikian dengan pendusta agama. (QS Al-Maun [107]: 1-7).

Jadi, jangan hanya mengandalkan masuk surga dengan selembar tiket shalat fardhu. Silakan menjaring rahmat Allah dengan banyak beramal saleh. Berinfak, zakat, puasa, haji, akur dengan tetangga, menyambung silaturahim, mengurus keluarga, belajar, menyantuni anak yatim, tidak membuang sampah sembarangan, bahkan hanya tersenyum kepada teman pun termasuk amal shaleh. Wallahu a'lam.

Senin, 15 November 2010

GURU RSBI IKUTI UJI KOMPETENSI

GURU RSBI IKUTI UJI KOMPETENSI

JAWA TIMUR
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur menargetkan 400 guru SMP RSBI tahap I mengikuti Uji Kompetensi, khususnya guru SMP yang mengajar Matematika, IPA dan Bahasa Inggris.Menurut Ibu Dra.Nur Srimastutik, MM, Kepala Bidang Tenaga Pendidik dan Kependidikan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Uji Kompetensi Guru ini dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai penguasaan materi ajar (substansi) dan metode pembelajaran setiap guru.Hasil uji kompetensi ini akan menentukan apakah seorang guru masih dalam kategori layak mengajar atau belum layak mengajar.Selanjutnya guru yang dikategorikan belum layak mengajar harus diberi pelatihan pendalaman materi dan pelatihan kemampuan dalam proses belajar mengajar dikelas.
Uji kompetensi guru bdang studi SMP RSBI ini merupakan tes yang mengukur penguasaan materi ajar dan metode pembelajaran pada mata pelajaran di jenjang pendidikan SMP dan merupakan persyaratan minimal seorang guru untuk dapat mengejar.


EMPAT KOMPETENSI
Berdasar Undang-Undang Republik Indonesia No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, ada 4 kompetensi yang harus dimilki oleh seorang guru profesional yaitu kompetensi profesional ( akademik ), kompetensi pedagogic, kompetensi social, dan kompetensi kepribadian.Nah salah satu upaya yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur untuk meningkatkan kualitas pendidikan khusunya kualitas guru adalah melakukan uji kompetensi guru.
Menurut Kepala Kepala Bidang Tenaga Pendidik dan Kependidikan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, tujuan khusus pelaksanaan uji kompetensi guru SMP RSBI ini adalah untuk mendeskripsikan kometensi akademis dan pedagogic, peta kualitas , kajian kualitas guru mata pelajaran Matematika, IPA dan Bahasa Inggris.
Uji Kompetensi Guru SMP RSBI ini direncanakan 2 tahap
Tahap I di Hotel Utami tanggal 11-12 Nopember 2010
Tahap II di Hotel Purnama di Malang tanggal 21-22 Nopember 2010

MATERI UJI KOMPETENSI
Materi yang diujikan mencakup empat aspek sebagaimana yang terdapat dalam standar kompetensi guru yaitu:
a.Kompetensi Pedagogic
1. Rencan Pembelajaran
2. Pelaksanaan Pembelajaran
3. Evaluasi Pembelajaran
4. Landasan Kependidikan
5. Kebijakan pendidikan
6. Tingkat perkembangan peserta didik
7. Pendekatan pembelajaran
8. Penguasaan kurikulum

b.Kompetensi Kepribadian
1. Sikap terhadap profesi
2. Motivasi
3. Kepribadian

c.Kompetensi Sosial
1. Komunikasi
2. Pemanfaatan teknologi informasi
3. Kemampuan hidup bermasyarakat
4. Pengabdian pada masyarakat
5. Keterlibatan dalam berbagai lembaga kemasyarakatan

d.Kompetensi Profesional
1. Subtansi Keilmuan yang terkait dengan materi ajar yang ada dalam kurikulum
2. Pemahaman terhadap hubungan konsep antar mata pelajaran/materi ajar
3. Penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari
4. Pengetahuan penelitian dan kajian untuk menambah wawasan
5. Memperdalam pengetahuan/materi yang diajarkan.

Nah, para guru SMP RSBI bersiap-siaplah diuji kompetensinya.

Semoga tulisan ini bermanfaat, paling tidak menjadi referensi para guru, orang tua, maupun pemerhati pendidkan.

Selamat belajar semoga sukses ..sukses anda sukses kita semua.

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN Minim, Guru yang Melek IT


Laporan wartawan KOMPAS Robertus Benny Dwi Koesnanto
Kamis, 11 November 2010 | 19:38 WIB
M.LATIEF/KOMPAS.COMILUSTRASI: Selain sarana prasarana yang belum tersedia, banyak juga guru yang masih tergolong gagap teknologi tentang aplikasi berbagai program pengajaran.

DENPASAR, KOMPAS.com - Jumlah guru di Tanah Air yang melek teknologi informasi, khususnya untuk melengkapi media ajar di kelas, masih sedikit. Kondisi tersebut diperparah dengan minimnya ketersediaan sarana-prasarana hingga pelatihan.
Hal itu terungkap dalam Pelatihan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) bagi 100 guru SMA/SMK di Denpasar yang diprakarsai Telkomsel di Sanur, Kamis (11/11/2010). Pelatihan itu merupakan wujud dari tanggung jawab sosial Telkomsel dalam bidang pendidikan serta internet sehat dengan menggandeng Musyawarah Guru Mata Pelajaran setempat.
Selain Denpasar, kegiatan serupa telah digelar di Bandung, Jakarta, Tasikmalaya, Sukabumi, Bogor, Padang, Cimahi, Semarang, Malang, Sidoarjo dan akan segera dilanjutkan pelatihan yang sama di berbagai kabupaten lain di seluruh Indonesia.
Pemateri dalam pelatihan itu, Tedy Setiawan, mengungkapkan umumnya guru yang ikut pelatihan serupa di kota-kota itu belum sepenuhnya menggunakan ICT dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Selain sarana prasarana yang belum tersedia, mereka juga masih banyak yang tergolong gagap teknologi tentang aplikasi berbagai program pengajaran.
"Mereka antusias untuk belajar dan memulainya di kelas. Modal awal ini harus ditindaklanjuti secara simultan oleh pihak sekolah maupun pemerintah daerah," kata Tedy.
Tedy mengungkapkan, Kementerian Pendidikan Nasional telah mengembangkan teknik metodologinya, sedangkan pelatihan kali ini lebih menitikberatkan pada konten dengan banyak pendekatan ICT. Dia mengharapkan materi pelajaran yang disampaikan ke siswa diharapkan lebih menyenangkan, lebih mudah penerapannya, sekaligus para guru nantinya akan selalu mendapatkan update bahan ajar untuk diimplementasikan di sekolah masing-masing melalui forum di website www.telkomselsahabatguru.com.
Manager Telkomsel Denpasar Handrat Widjanarko mengungkapkan, sebagai kelanjutan pelatihan ini, Telkomsel juga telah memberikan sebuah wadah bagi para guru di Indonesia untuk saling bertukar pikiran sekaligus berinteraksi dengan sesama guru di seluruh Indonesia. Dalam aplikasi tersebut tersedia bahan ajar, solusi dan simulasi pemecahan soal, latihan soal, video tutorial, e-book, tips dan trik menjawab soal matematika, sekaligus forum komunikasi guru di Tanah Air.

Sekolah Jangan Tinggalkan Keindonesiaan

BAHASA INDONESIA

Laporan wartawan KOMPAS Ester Lince Napitupulu
Jumat, 12 November 2010 | 10:00 WIB

ILUSTRASI: Sekolah tidak serta-merta mengubah bahasa pengantar di sekolah dengan bahasa Inggris atau dua bahasa.

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekolah mesti mampu menumbuhkan sikap bangga pada ke-Iindonesia-an dalam diri semua siswa. Upaya sekolah ini bukan untuk membuat siswa bersikap antipati pada hal-hal asing, tetapi lebih pada pendidikan untuk membuat generasi muda bangsa tidak kehilangan identitas kekhasannya sebagai anak-anak bangsa Indonesia.
Yang mesti difokuskan sekolah adalah membuat anak didik berkarakter dan disiplin berbahasa yang baik sebagai bekal menguasai ilmu pengetahuan, termasuk bahasa asing.
-- E Baskoro Poedjinoegroho
Bangsa ini seharusnya punya optimisme akan mampu sejajar dengan negara-negara lain di dunia dengan sumber daya alam, budaya, dan sosial yang dimiliki. Dengan demikian, Indonesia tidak perlu merasa rendah diri untuk tetap mengedepankan ke-Indonesia-an di era globalisasi sekarang.
"Jadi, sekolah tidak usah sibuk membuat siswanya jago berbahasa asing, sebut saja bahasa Inggris. Yang mesti difokuskan sekolah adalah membuat anak-anak didik berkarakter dan memiliki disiplin berbahasa yang baik sebagai bekal untuk menguasai ilmu pengetahuan, termasuk juga bahasa asing," kata E Baskoro Poedjinoegroho, Pembina Kolese Kanisius di Jakarta, Kamis (11/11/2010) kemarin.
Baskoro menyatakan, sekolah dan masyarakat telah menanamkan paradigma yang keliru bagi generasi muda dengan menempatkan hal-hal yang berasal dari luar negeri, khususnya dunia barat, sebagai tanda kemajuan dan internasional. Sementara itu, nilai-nilai ke-Indonesia-an, yang salah satunya bangga berbahasa Indonesia, semakin luntur.
"Anak-anak sekarang merasa lebih keren kalau jago ngomong bahasa Inggris. Sementara kemampuan berbahasa indonesia justru dipelajari alakadarnya. Bahkan, banyak siswa yang merasa tidak senang dengan pelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Ini kan aneh. Tetapi lingkungan sekeliling mereka juga memang lebih menghargai yang berbau asing daripada yang khas Indonesia," jelas Baskoro.

Tugas Matematika Bulan Nopember 2010

Silahkan download soal Tugas 1 dan Tugas 2 untuk dikerjakan, dan jika sudah selesai dikumpulkan yaa

Minggu, 14 November 2010

Tugas Matematika Bulan Nopember 2010

Soal Tugas 1 dan Tugas 2, silahkan dikerjakan, jika sudah selesai dikumpulkan yaa

Jumat, 12 November 2010

Foto Merapi dari Ketep Magelang

ABU VULKANIK—Asap keluar dari puncak Gunung Merapi dengan latar depan permukiman di Desa Ketep, Magelang, Jawa Tengah yang tertutup abu vulkanik,

PENELITIAN "Perpustakaan Digital Sudah Bisa Diakses"

Kamis, 11 November 2010 | 16:45 WIB
 
KemenristekDi http://pustaka.ristek.go.id saat ini akses yang baru terbuka bagi peneliti di Lembaga Pemerintah non-Kementerian (LPNK) seperti BPPT, LIPI, LAPAN, BATAN, Bapeten, BSN dan peneliti di Puspiptek.

JAKARTA, KOMPAS.com — Peneliti Indonesia kini bisa mengakses sekitar 2.000 jurnal ilmiah internasional setelah portal perpustakaan digital diluncurkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi. Di perpustakaan digital ini, sekitar 2.000 jurnal ilmiah internasional bisa diakses para peneliti kita.
Akses berlangganan ke jurnal internasional bagi para peneliti kita terlalu mahal. Karena itu, kami memfasilitasinya. Mereka bisa mendapat password untuk akses ini.
-- Suharna Surapranata
Demikian dikatakan Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata di Jakarta, Kamis (11/11/2010), pada peluncuran perpustakaan digital http://pustaka.ristek.go.id. Untuk sementara, kata dia, yang baru terbuka adalah akses bagi peneliti di lembaga pemerintah non-kementerian (LPNK), seperti BPPT, LIPI, LAPAN, BATAN, Bapeten, BSN, dan peneliti di Puspiptek.
"Ke depan akan dibuka juga kerja sama dengan berbagai badan litbang kementerian, pemda, dan perguruan tinggi," ujar Suharna.
Menurut dia, selama ini para peneliti Indonesia sulit mendapatkan akses ke berbagai jurnal internasional sehingga tak mengetahui temuan terakhir dunia. Para peneliti juga tak bisa memetakan riset yang dibutuhkan dan sering terjadi penelitian yang tumpang tindih.
Suharna juga menyesalkan rendahnya publikasi peneliti Indonesia yang hanya antara 300 dan 400 artikel per tahun. Ia membandingkan jumlah tersebut dengan publikasi penelitian di China yang mencapai 250.000 artikel per tahun atau Jepang sebanyak 100.000 dan Korea Selatan 50.000 artikel per tahun.
"Dengan terbukanya akses ke jurnal ilmiah itu, para peneliti Indonesia diharapkan bisa mengetahui kondisi terakhir penelitian di dunia dan makin bersemangat melanjutkan berbagai penelitian tersebut," ujarnya.
Sementara itu, Staf Khusus Menteri Bidang Kebijakan Iptek KRT Dr Ade Komara Mulyana mengatakan, akses ke jurnal ilmiah internasional ini melalui science direct yang merupakan penyedia kumpulan jurnal ilmiah terbesar di dunia.
"Akses berlangganan ke jurnal internasional bagi para peneliti kita terlalu mahal. Karena itu, kami memfasilitasinya. Mereka bisa mendapat password untuk akses ini," katanya.
Ke depan, kata dia, selain bekerja sama dengan science direct, pihaknya juga berharap bisa berlangganan IEEE, penyedia jurnal internasional lainnya dan Proquest yang sebenarnya sudah dijadikan langganan oleh Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional untuk berbagai universitas.
KRT, ujarnya, juga memfasilitasi para penelitinya di LPNK yang ingin artikelnya dipublikasikan di jurnal internasional setelah diseleksi oleh pihak penerbit. Biaya publikasi mencapai 500 dollar AS per artikel.
Adapun Indonesia saat ini memiliki 6.000 jurnal ilmiah nasional terakreditasi dengan 25.000 artikel per tahunnya.

RSBI Bahasa Asing di RSBI "Memble"

Jumat, 12 November 2010 | 10:11 WIB BANGKOK, KOMPAS.com -
 
shutterstockIlustrasi: Hasil penelitian itu menyebutkan, penggunaan bahasa asing tidak efektif karena jumlah guru yang berkemampuan mengajar dalam bahasa Inggris kurang dari 25 persen. Mayoritas guru hanya sekadar bisa berbicara dalam bahasa Inggris.

Bahasa asing sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah berstatus rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) di Indonesia berjalan tidak efektif. Ini disebabkan tidak ada standar pengajaran yang jelas sehingga metode pengajaran bahasa asing setiap guru berbeda.
Setiap guru di satu sekolah yang sama bisa saja metode pengajaran dengan bahasa Inggrisnya berbeda-beda, karena tidak ada panduan dan standar pengajaran yang jelas.
-- Danny Whitehead
Hal itu dikemukakan Head of English Development British Council Danny Whitehead yang memaparkan hasil penelitian Stephen Bax dari University of Bedfordshire, Inggris, di konferensi internasional ”Language, Education, and Millenium Development Goals (MDGs)”, Kamis (11/11/2010) di Bangkok, Thailand.
”Setiap guru di satu sekolah yang sama bisa saja metode pengajaran dengan bahasa Inggrisnya berbeda-beda. Ini disebabkan tidak ada panduan dan standar pengajaran yang jelas,” ungkap Whitehead.
Hasil penelitian itu juga menyebutkan, penggunaan bahasa asing tidak efektif karena jumlah guru yang memiliki kemampuan mengajar dalam bahasa Inggris kurang dari 25 persen. Mayoritas guru hanya sekadar bisa berbicara dalam bahasa Inggris.
”Mahir bicara dalam bahasa Inggris dan mampu mengajar dalam bahasa Inggris jelas dua hal yang berbeda. Guru harus dilatih secara khusus untuk bisa mengajar dengan bahasa Inggris,” kata Whitehead. (LUK)

Bahasa Asing di RSBI Tidak Efektif

Jumat, 12 November 2010 | 04:06 WIBBangkok, Kompas 
Bahasa asing sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah yang berstatus rintisan sekolah bertaraf internasional di Indonesia berjalan tidak efektif. Ini disebabkan tidak ada standar pengajaran yang jelas sehingga metode pengajaran bahasa asing setiap guru berbeda.
Hal itu dikemukakan Head of English Development British Council Danny Whitehead yang memaparkan hasil penelitian Stephen Bax dari University of Bedfordshire, Inggris, di konferensi internasional ”Language, Education, and Millenium Development Goals (MDGs)”, Kamis (11/11) di Bangkok, Thailand.
”Setiap guru di satu sekolah yang sama bisa saja metode pengajaran dengan bahasa Inggrisnya berbeda-beda. Ini disebabkan tidak ada panduan dan standar pengajaran yang jelas,” ungkap Whitehead.
Hasil penelitian itu juga menyebutkan, penggunaan bahasa asing tidak efektif karena jumlah guru yang memiliki kemampuan mengajar dalam bahasa Inggris kurang dari 25 persen. Mayoritas guru hanya sekadar bisa berbicara dalam bahasa Inggris.
”Mahir bicara dalam bahasa Inggris dan mampu mengajar dalam bahasa Inggris jelas dua hal yang berbeda. Guru harus dilatih secara khusus untuk bisa mengajar dengan bahasa Inggris,” kata Whitehead.
Tak harus RSBI
Untuk meningkatkan mutu pendidikan, kata Whitehead, tidak perlu melalui pendirian rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI). Justru akan lebih efektif jika pemerintah memusatkan perhatian pada metode dan proses pengajaran, baik di RSBI maupun non-RSBI. Bahkan, RSBI sebenarnya bisa mengembangkan kurikulumnya sendiri dengan tetap berdasarkan kurikulum nasional dan tidak perlu mengambil mentah-mentah dari negara lain. ”Jangan justru mendahulukan keuntungan ekonomi yang dapat diperoleh,” kata Whitehead.
Hal senada diutarakan konsultan pendidikan di British Council Indonesia, Hywel Coleman. Ia mengaku khawatir RSBI justru menciptakan diskriminasi pendidikan yang semakin lebar. Apalagi kurikulum RSBI sebagian diambil dari sekolah luar negeri.
”Biaya pendidikan di RSBI sebenarnya bisa murah jika kurikulum yang digunakan kurikulum buatan sendiri,” kata Coleman.
Ia khawatir akan banyak anak yang tidak bisa menikmati pendidikan berkualitas baik, seperti di Pakistan dan Thailand.
Karena sudah telanjur harus ada sesuai undang-undang, Whitehead dan Coleman menyarankan agar pemerintah mengawasi dan mengevaluasi RSBI, terutama efektivitas dalam pengajaran menggunakan bahasa Inggris.
”Sampai saat ini belum ada evaluasi menyeluruh dari pemerintah tentang RSBI,” kata Whitehead. (LUK)

Bagaimana komentar anda?